Galery

Refleksi Menyambut Hari Raya Idul Adha 1431


Refleksi Menyambut
Hari Raya Idul Adha 1431

Hari raya Idul Adha  berkaitan erat dengan kisah perjalanan hidup nabiulloh ibrahim dan Putranya nabiulloh Ismail.Nabiulloh ibrahim adalah sosok manusia yang lebih mendahulukan dan mementingkan iman dan perintah Allah swt. daripada dorongan kecintaan pada dirinya atau hasrat mencari kepuasan dunia.
Setidaknya ada empat ujian yang diberikan kepada nabi ibrahim, dan beliau lulus dari ke empat ujian tersebut. Ke empat ujian tersebut diantaranya :



1. Ujian pertama
  di masa mudanya, Ibrohim gundah melihat kaumnya, termasuk ayahnya, menyembah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat atau pun mudharat berkali-kali ia menasihati ayahnya dan kaumnya untuk berhenti melakukan itu, dan menyembah hanya kepada Allah semata, namun tidak juga berhasil.
   Akhirnya, ketika seluruh kaumnya sedang bepergian, pada satu hari raya mereka. Ibrohim masuk ke kuil peribadatan mereka dengan membawa kapak, menghancurkan berhala-berhala yang kecil, lalu menggantungkan kapaknya itu di patung yang besar. (Pasti dah sering dengar kisahnya ya? kalo blum silahkan buka surat al-Anbiyaa mulai dari ayat 52)
Singkat cerita, Ibrohim yang sudah dikenal sering mencela berhala-berhala itu, pun di adili oleh kaumnya, hingga mereka pun memutuskan untuk membakarnya hidup-hidup! inilah ujian pertama dari Allah.
   Perlu diingat bahwa Waktu itu tidak ada jaminan apa pun bahwa Allah akan membuat api itu tidak membakarnya, tapi Ibrohim tidak mundur, ketaqwaan beliau malah bertambah, dan beliau memasrahkan semuanya kepada Allah. Hingga akhirnya Allah menurunkan pertolonganNya dengan memerintahkan kepada api untuk menjadi dingin dan tidak membakar Ibrohim.
Luluslah Ibrohim dari ujian Allah yang pertama.

2. Ujian kedua
   Kaumnya keheranan ketika asap dan abu sudah mereda, mereka masih melihat Ibrohim masih berdiri di tempat ia dibakar dalam keadaan hidup. Mereka takjub sekaligus murka.. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengusir Nabi Ibrohim dari tempat tinggalnya, yang dikisahkan berada di wilayah Babilonia.
  Ini ujian kedua dari Allah, bayangkan bagaimana berat rasanya nya di usir dari tanah kelahiran sendiri? ketika kita harus meninggalkan rumah yang sudah bertahun-tahun kita tempati saja rasanya berat sekali.
Hingga beliau pun berkelana dan kemudian menetap di kota Irsyalim (Yerusalem), di Palestina.

3. Ujian Ketiga
   Di sana ia menikah dengan wanita bernama Siti Sarah. Bertahun-tahun berlalu namun tidak kunjung jua mereka memiliki keturunan. Lalu siti Sarah pun mengizinkan Ibrohim untuk menikah lagi, demi kelangsungan garis keturunan kenabian yang Mulia, dan Ibrohim pun menikah dengan Siti Hajar. Dan selang beberapa waktu, mereka dikarunai seorang anak laki-laki, yang kemudian diberi nama Isma'il.
  Rupanya hal ini membuat siti Sarah cemburu, dan Allah masih ingin menguji ketaqwaan Ibrohim. diperintahkanNya Ibrahim untuk membawa siti Hajar dan Ismail jauh dari tempat tinggalnya, hingga mereka sampai di tempat tandus, dan Allah memerintahkan Ibrohim untuk meninggalkan anak dan istrinya tersebut.
  Ayah mana yang tega, meninggalkan istri tercinta dan anak yang sangat diharapkan kehadirannya. di tengah-tengah padang tandus? Namun sekali lagi, inilah ujian ketaqwaan bagi beliau. Dan Allah tidak menzholimi hambaNya, padang tandus itu pun berkembang menjadi kota berkat mata air yang muncul dari tempat kaki Isma'il kecil berbaring, yang ketika melihatnya, Siti hajar - yang telah bolak-balik bukit Shofa dan Marwa- berteriak, "Ketemu! Ketemu!", atau dalam bahasa arabnya, "Zam zam! Zam zam!"
dan, padang tandus itu kini dikenal sebagai kota Mekkah.

4. Ujian keempat
    Beberapa tahun sesudahnya, ketika Isma'il memasuki usia remaja. Nabi Ibrohim gelisah. Ia melihat dalam mimpinya, dirinya menyembelih Isma'il dengan tangannya sendiri. Mimpi itu datang tiga malam berturut-turut. Dan karena syaithon tidak dapat menguasai diri para nabi, maka beliau pun yakin bahwa itu adalah perintah dari Allah untuk dilakukan.
Lalu terjadilah dialog yang termaktub di surat Ash Shooffaat [37] ayat 102-110,
Ibrohim berkata: "wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?"
apa jawaban Isma'il yang masih berusia remaja itu?
   Isma'il menjawab, "wahai ayah ku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati ku termasuk orang-orang yang sabar." Subahannallah..
Hati Ibrohim tambah teriris mendengar jawaban luar biasa dari anaknya, mana mungkin ia tega menyembelih seorang anak yang luar biasa tingkat akhlaq nya? Dilema melandanya, antara memilih perintah Allah dan kecintaan terhadap anaknya, disinilah letak ujian keempat bagi beliau.
  Namun Beliau tetap memilih melaksanakan perintah Allah, mereka pun pergi ke satu tempat, lalu Ibrohim membaringkan Isma'il, dan ketika Ibrohim mengangkat pisaunya, Allah berfirman: ""wahai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu."
  maksudnya, Ibrohim telah melaksanakan apa yang Allah inginkan. Allah tidak ingin Ibrohim menyembelih Isma'il, Dia hanya ingin melihat ketaqwaan Ibrohim. maka Allah pun mengganti perintah Nya dengan perintah menyembelih sembelihan hewan.

Balasan Allah Atas Ke taatan Nabi Ibrahim kepada Alloh:
Mengangkat nabi ibrahim sebagai bapaknya para nabi dan di angkat sebagai imamnya (pemimpin) seluruh umat manusia. Dan doa2nya dikabulkan oleh Allah swt.Hal tersbut bisa dilihat dalam Al-Quran surat Albaqoroh  ayat 124
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".
Sebenrnya doa yang dikabulkan Alloh bukan hanya itu masih banyak namun berhubung tempat dan waktu saya tidak bisa mengungkapkannya pada majlis ini.

Sudah barang tentu tidak seluruh jejak langkah (millah) Ibrahim dapat kita ikuti karna memang pengabdian, pengorbanan dan perjuangan kita tidak seberat yang dihadapi Nabi Ibrahim a.s.  Walaupun demikian millah Ibrahim a.s. tetap abadi untuk dijadikan cermin bagi diri kita, tetap lestari untuk dijadikan daya kekuatan hidup sepanjang zaman, oleh siapapun dan dimanapun masyarakat manusia berada.
·   Bukankah iman dan keyakinan serta pandangan hidup kita sering diuji setiap hari ?; dan untuk itu kita meneladani millah ibrahim, agar jangan sampai kecintaan pada istri dan anak, pangkat dan jabatan, harta dan kekayaan, atau rasa takut pada atasan atau pemimpin, atau rasa hormat pada yang kaya, dan segala macam kecintaan duniawi menjadikan kita tidak berani mempertahankan keyakinan, takut dalam membela kebenaran, meninggalkan tugas menjunjung tinggi keadilan.
·   Bukankah masyarakat disekitar kita tak pernah sepi dari berbagai kekurangan ; dan untuk itu kita mewarisi millah ibrahim; memberikan rasa aman bagi yang ketakutan, memberi makan pada yang lapar, menyehatkan orang yang sakit, mendidik rakyat yang bodoh, memberi pekerjaan kepada mereka yang menganggur, dsb. Yang merupakan amal kebajikan
·  Bukankah stiap hari kita mendengar tentang pembangunan? Dan untuk itu kitapun meneladani millah ibrahim; Kita membangun atas dasar penggilan iman dan ketaatan kepada Allah, yang di sesuaikan dengan pola wahyu (Al-Quran) menurut contoh pembawa dan penyempurnaan millah ibrahim yaitu sunah, Nabi saw.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama

read more.. Beranda

Video Ytube